Translate

Selasa, 22 Mei 2012

Naskah Drama Sahabat dan 3 Peri (8 Orang)

SAHABAT

BAGIAN 1:
            Pada suatu hari hiduplah dua remaja putri, yang satu bernama Pupu dan yang satunya lagi bernama Berli. Mereka memiliki suara yang sangat indah, maka dari itu setelah dewasa, mereka menjadi penyanyi yang hebat. Mereka juga bersahabat sejak lama. Namun, pupu memiliki sifat yang sombong, tidak sabaran dan yang paling penting di antara yang lainnya adalah ia amat sangat egois.

Pupu: Berli, datanglah! Cepat! (berteriak memanggil nama Berli dengan selantang-                           
lantangnya)
Berli: Ada apa kau memanggilku? (datang dengan nafas terengah-engah)
Pupu: Buatkan teh dengan daun mint untukku, cepatlah! (sambil mengibaskan telapak   
tanannya menyuruh Berli pergi keluar)
Berli: Apa!? (berkata setengah berteriak dengan nada tidak percaya)
Pupu: Apa kau tuli? Cepat buatkan teh untukku! (berteriak dengan tidak sabaran)
Berli: (mendengus dan pergi dengan segera, kemudian membawa secangkir the tak lama
kemudian) ini dia, teh dengan daun mint seperti apa yang kau minta. (dengan tidak sengaja Berli tersandung dan menjatuhkan secangkir teh ke seluruh tubuh Pupu) Oh tidak! Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja. (wajah Berli pun segera berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan)
Pupu: Oh, tuhan! Apa kau gila? Ini adalah baju yang baru aku beli kemarin! Dan
sekarang kau telah menghancurkannya!! (berteriak dengan marah)
Berli: Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Tolong, maafkan aku, Pupu…
Pupu: Tolong? Apakah kau sadar? Ini adalah dunia egois, hanya orang egois yang akan
menang. Dan orang egois tidak akan menolong atau memaafkan siapa pun seumur hidupnya (berlalu dengan marah dan meninggalkan Berli yang menangis terisak)
Berli: Aku tidak percaya ini! Dia mengatakan hal sekasar itu padaku!? Oh, benar-benar
sulit dipercaya! Dia memang sudah gila! (menangis dan bergumam tak percaya ketika punggung Pupu sudah tak terlihat lagi)


BAGIAN 2:
            Pupu sudah akan beranjak tidur, namun dia langsung terlonjak kaget ketika melihat seseorang yang dia kenal telah meninggal, datang dengan rantai besi yang membelit seluruh tubuhnya.
Bibi     : Hai, apa kabar keponakanku? (bertanya dan segera membentangkan tangannya          berniat untuk memeluk Pupu yang sedari tadi belum pulih dari kagetnya).”
Pupu    : (segera menghindar dan berseru kepada seseorang yang telah mengagetkannya) Hei! Mengapa kau kemari? Tak seharusnya kau di sini! Apakah ini mimpi!?.”
Bibi     : Ouh… Apakah reaksimu tidak berlebihan? Hanya inikah sambutan yang aku      dapatkan?
Pupu    : Mengapa kau kemari?! (sergah Pupu secepatnya)
Bibi     : Aku hanya ingin kau tahu akan sesuatu. Jangan lagi kau menjadi orang yang egois, jika kau tidak ingin berakhir sepertiku.
Pupu    : Apakah kau bercanda? Itu gila! Lihatlah, betapa hebatnya aku sekarang ini.
Bibi     : “Kau benar-benar keras kepala! Kau tidak bisa hidup seperti ini, nak. Kau akan                berakhir sepertiku.
Pupu    : Aku tidak peduli! Yang hanya aku pedulikan hanyalah semua nasihatmu:            “Dunia ini adalah dunia yang egois, dan hanya orang-orang egoislah yang akan         menang”
Bibi     : Apakah kau tau nak?! Kau amat sangat menyebalkan!!
Pupu    : (tidak memperdulikan roh bibinya dan segera beringsut ke tempat tidur sambil                menutip telinga, tak perduli)

BAGIAN 3:
            Belum lagi Pupu terlelap, ia kembali terbangun karena adanya cahaya yang sangat menyilaukan.
Peri1    :Hei, bangunlah tukang tidur! Kau akan bertambah gemuk jika seperti ini terus.               (berseru dengan sedemikian bersemangatnya) Oh, ayolah… Kita akan terlambat                   nanti…
Pupu    : Apakah ini mimpi buruk lagi? (berkata dengan mata yang masih terpejam).”
Peri1    : Ini tentu bukanlah mimpi buruk, tukang tidur. Kita akan melakukan perjalanan   yang sangat menyenangkan nanti. Apakah kau mendengarkanku? Oh, sulit         dipercaya! Kau tertidur lagi! (menggoyang-goyangkan tubuh Pupu dengan amat  sangat keras agar Pupu segera terbangun)
Pupu    : Baiklah-baiklah… aku akan segera bangun. Jangan khawatir, ayolah.. kita akan  pergi kemana sekarang? Cepat selesaikan dan aku akan tidur kembali untuk   kecantikan! (kembali berkata dengan nada marah dan tidak sabaran).”
Peri1    : Ayo! Kita pergi ke masa lalumu. Hahaha… ini akan sangat menyenangkan karena aku adalah penggemar terberatmu saat ini (tertawa dengan lepas seolah tidak ada orang bersamanya)

            Kemudian sampailah mereka ke dimensi lain seperti kenangan yang pernah Pupu ingat sebelumnya. Lalu datanglah dua anak ke sebuah ruangan, mereka pun tertawa dan bernyanyi bersama:
Pupu (septia) dan Berli: Give me give me give me all your heart.We making real love       come into my world. Naege dagawa jwo neukkil su itge. Neoui pumsoge meomul            su itge naegero wajwo. Hahaha… (pecahlah tawa mereka ketika berhenti            menyanyikan lagu yang sama)
Berli    : Haha… sangat menyenangkan bukan?
Septia  : Ya, tentu saja. Ini adalah latihan terbaik yang pernah kita alami. (kemudian         tertawa bersama lagi)
Berli    : “Haha... kita harus mengulanginya lagi nanti.”
Septia  : “Baiklah.. ini benar-benar menyenangkan!”
Bibi     : “Hei, kenapa kalian ini bermain-main? Ini tidak lucu atau pun menyenangkan, kau tau!? Ini adalah kerja keras, bukan tempat permainan anak-anak! Apakah kalian mengerti?”
Septia  : “Tapi Bibi, kami juga berlatih dengan amat sangat keras. Kami juga tidak pernah  bermain-main dengan latihan kami. (jawab Septia gelagapan ketika bibinya            menunjukkan wajah marah)”
Bibi     : “Diam!! Aku tidak butuh semua omong kosongmu! Cepatlah kau pergi berlatih!   Dan ingat satu hal, sendirian!!!”
Septia  : “Tapi, bibi... bagaimana dengan Berli? Apakah aku boleh berlatih dengannya?”
Bibi     : “Tidak (seru Bibi dengan tidak sabaran, seraya berjalan mendekat ke arah Septia  yang sedang ketakutan)”
Septia  : “Kenapa? (tanya Pupu memberanikan bertanya kepada Bibinya untuk       mendapatkan penjelasan darinya)”
Bibi     : “Karena kau harus belajar menjadi orang yang egois, nak. Di dunia yang egois      ini kau tidak akan pernah berhasil jika terus seperti ini. Karena di dunia egois,  hanya egoislah yang akan menang. Apakah kamu mengerti?”
Septia  : “Iya,bibi. Aku mengerti (berpaling mrnghadap Berli kemudian mengatakan          sesuatu kepadanya). Maaf Berli, Aku harus pergi sekarang.”
Berli    : “Baiklah, urus dulu saja bibimu.(berli mengatakan dengan perlakuan bibi yang      ditunjukan kepada pupu)”

Pupu pun mengajak peri pertama kembali ke rumahnya.

BAGIAN 4

Belum lagi Pupu tertidur namun peri kedua telah datang mengajak Pupu untuk pergi ke dimensi yang lainnya lagi. Kemudian sampailah mereka ketempat Pupu bekerja kemudian Pupu mendapati menemukan Berli yang sedang bekerja disana.
Peri 2  : “Oh lihatlah! Kenapa masih ada orang yang bekerja pada sepekan terakhir
menjelang hari raya? Apakah kita salah jadwal? (melirik kalender yang dibawanya, serta melihat jam yang melingkar di tangannya).”
Pupu    : “Tidak, ini benar. Dia memang bekerja pada hari libur. Akulah yang          menyuruhnya. (berkata dengan angkuhnya).”
Peri 2  : “Alangkah kejamnya kau ini! Kau tahu hari besar apa nanti? Kita akan      merayakan hari raya Idul Fitri. Apakah kau tidak punya hati? Tetap menyuruhnya   bekerja padahal seharusnya kita bersantai dirumah bersama keluarga sekarang        ini.”
Pupu    : “Bukannya aku tidak punya hati, tapi jika dia ingin berhasil dia harus bekerja       keras seperti ini!”
Peri 2  : “Kau sudah sinting! Memperlakukan sahabat terbaikmu seperti ini!”
Pupu    : “(hanya tersenyum mendengar makian dari peri ke-2)”
Berli    : “Pupu.....Kau berhutang kepadaku! Memang apa bagusnya dirimu! (mengutuki    temannya itu dengan nada kesal bercampur amarah)”
Peri 2  : “Wow..wow..wow, sepertinya akan ada pembangkang nanti. Dia melakukan hal  yang benar, kau tahu? Dia mengutukimu! (bersemangat mengompori Pupu yang            tercengang dengan sikap temannya itu)
Pupu    : “Hah?!..., Beraninya dia! Dia tidak akan berhasil tanpa aku! Enak saja dia            menghinaku seperti itu! Dasar tidak tahu malu!!! (wajahnya memerah menahan         marah)”
Peri 2  : “Apakah kau yakin dia berhutang budi padamu? Dia jauh memiliki suara yang     indah daripada kamu.”
Pupu    : “Mustahil! (tersenyum mengejek mendengar pernyataan dari Peri ke-2).”
Berli    : “Ya Tuhan aku belum istirahat sama sekali! (terlonjak kagek saat melihat jam        tangan yang melingkar di tangan kirinya. Kemudian duduk di lantai untuk       sejenak). Eonjengan i nunmuri meomchugil, eonjengan i eodumi geochigo.”
Peri 2  : “Lihat! Dia jauh lebih hebat darimu bukan? Dia hanya tidak ingin membuatmu     kecewa saja. Dia sungguh memiliki hati yang mulia, kau harus menirunya! Segera         berubahlah! (tersenyum melihat ekspresi Pupu yang tidak percaya).”
Pupu    : “Tidak mungkin.”
Peri 2  : “Apakah ini sudah cukup bagimu? Atau kau ingin berkeliling lagi.”
Pupu    : “Bawa aku pergi dari sini!”
Peri 2  : “Hahaha... Kau terlihat lucu saat ketakutan. Sering-seringlah kau seperti ini!”

BAGIAN 5 :
            Sepulangnya dari perjalanan bersama dengan peri kedua. Pupu sangat kesal, maka dari itu dia tidak dapat tidur kembali. Dia amat sangat marah sehingga tidak menyadari bahwa telah datang peri ketiga. Pupu pun kembali marah ketika peri ketiga mengatakan bahwa akan ada perjalanan selanjutnya bersamanya. Namun peri ketiga tidak terpancing amarahnya sedikit pun atas perlakuan yang diterimanya. Karena Pupu selalu membentaknya dan mengatakan kata-kata kasar kepadanya.

Peri3    : “Apakah di sini ada orang? Apakah hanya aku saja yang tidak nyata? Bisakah      kau memperhatikan aku, nona? Aku datang kemari untuk menjemputmu, kau tahu? Kita akan segera melakukan perjalanan selanjutnya. (bertanya dengan        lemah lembut dan mengucapkannya dengan sangat sopan)”
Pupu    : “Oh, tidak! Apa lagi ini? Sejumlah parade omong kosong di alam mimpi?!”
Peri3    : “Ini tidak bisa disebut dengan parade nona, tapi ini adalah usaha untuk     membujuk agar kau berubah.”
Pupu    : “Hah?! Omong kosong! Itu hanya khayalanmu saja.”
Peri3    : “Apa kamu yakin? Perjalanan ini akan menyenangkan.”
Pupu    : “Benarkah? Kalau begitu lakukan saja sendirian. Aku tidak ingin melakukan hal
apa pun bersamamu! Mengerti?! Aku hanya ingin tidur tanpa gangguan sedikit
pun!”


Peri3    : “Tapi kau bisa mengetahui masa depanmu nanti. Kau mungkin akan melihat
dirimu yang sesungguhnya, yang sedang menunjukkannya kepada dunia. Apakah kau yakin tidak akan tertarik? Kau akan terlihat hebat nanti.”
Pupu    : “Baiklah, kau mungkin mengesalkan. Tapi kau adalah penjilat yang hebat. Asal
kau tahu saja, aku benar-benar menghargainya. (tertawa dan tersenyum sinis
untuk menutupi betapa bangganya dia dipuji oleh seorang peri yang berasal dari negeri antah berantah)”
Peri3    : “Jadi, apakah kau akan berubah pikiran? Apakah kau akan ikut bersamaku? (tanya peri setengah membujuk)”
Pupu    : “Aku rasa, iya.. tidak ada salahnya mencoba.”
Peri3    : “Kau benar, tidak seburuk yang kau kira. Baiklah kalau begitu, kita akan berangkat sekarang! Apakah kau sudah siap?”
Pupu    : “Ya, sekarang! (memasang wajah bahagia yang amat sangat, karena Pupu berpikir bahwa masa depannya secerah yang dia kira. Padahal kenyataannya adalah yang sebaliknya)”

Lalu sampailah mereka di depan sebuah rumah yang tua dan sudah tak berjendela. Keadaannya pun rasanya jauh lebih rapuh dan terlihat sangat tak terawat serta sepi tak berpenghuni. Bahkan istilah rumah terlalu mewah untuk rumah berpenampilan seperti itu. Sebutan gubuk pun jauh lebih cocok untuk menyebut tempat bernaung tua yang sudah rapuh itu. Pupu pun mulai marah karena merasa dipermainkan kembali. Dia pun kembali menjerit dan memaki peri ketiga.

Peri 3   : “Baiklah, kita sudah sampai sekarang. Inilah masa depanmu sayang.(tersenyum sinis kepada Pupu yang kembali tercengang untuk kesekian kalinya pada malam itu).”
Pupu    : “Sial! Kalian mempermainkan ku lagi! Bawa aku pergi dari sini!”
Peri 3   : “Tidak akan, sebelum kau melihat semuanya, nak. Ini akan membuatmu berubah menjadi orang yang jauh lebih baik nantinya.”
Pupu    : “Bermimpi saja kau sana. Itu tak akan terjadi padaku, sayang! (menekan kata “sayang” agar peri itu mengerti bahwa Pupu benar-benar ingin pulang)”

            Tiba-tiba Pupu melihat seorang wanita yang sedang mendengarkan sebuah lagu yang sering Pupu dengar.

“chagun gaseumi eoneusae jogeumsik
Noga naeryeonna bwa niga deureowasseo
Eonjenbuteoinga jibe doraomyeon
Neoreul tteoolligo inneun nae moseubeul
Bomyeonseo nae mam soge niga inneun geol arrasseo
Maybe you’re the one
Maybe eojjemyeon
Eonjena neomu
Gakkai isseoseo mollasseonnabwa”

Septia  : “Ah, andai saja waktu dapat ku putar. Mungkin akan aku turuti nasihat para peri dan bibi. Mungkin aku tidak akan berakhir seperti ini. (sambil menerawang angin di udara)”

Setelah itu, Septia (Pupu saat dewasa) membuka pintu rumahnya. Kemudian selembar kertas melayang masuk ke dalam rumahnya. Selembar kertas itu berisi sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa digelar sebuah konser yang megah, yang akan menampilkan seorang penyanyi hebat bernama Berli. Pada hari itu jam 2 siang, yang berarti sekarang. Septia pun segera beranjak pergi menuju tempat yang tercantum di selembar kertas tersebut. Ia pun menyesal karena telah memecat Berli sebagai pegawainya yang saat itu datang terlambat. Kini, Septia berharap banyak agar Berli memberikan pertologan kepadanya.

Septia  : “Hai, Berli! Masihkah kau ingat padaku? Aku Pupu, temanmu dulu. (bertanya penuh harap agar Berli bisa menolongnya).”
Annisa : “Siapa? (bertanya acuh tak acuh, dan kembali mengingat siapakah wanita yang berdiri dihadapannya itu) Ooh... Teman egois yang pernah kupunya dulu, benarkah itu?”
Septia  : “Ya, kau benar (menjawab dengan lirih dan malu-malu)”
Annisa : “Aku sangat berterima kasih kepadamu. Berkatmu, aku bisa sesukses sekarang. Kau tahu?! Bibimu benar, di dunia egois hanya orang yang egoislah yang akan menang”
Septia  : “Oh. Tidak..tidak. Itu tidak benar.”
Annisa : “Kenapa? Seharusnya kau bersyukur mendengar hal itu! Seharusnya aku mengikutinya sejak dulu.”
Septia  : “Baiklah. Terserah kau saja.”
Annisa : “Ngomong-ngomong, apa yang membawamu datang kemari?”
Septia  : “Aku ingin meminta tolong kepadamu... (kalimatnya terpotong ketika Berli menyela perkataannya)
Annisa : “Maafkan aku. Tapi, aku telah berhenti menolong orang sejak dulu ketika kau telah memecatku”
Septia  : “Oh, baiklah. Maafkan aku jika aku telah mengganggumu. (berlalu dengan pasrah meninggalkan Berli sendirian)”

Peri3    : “Itu merupakan akhir bagimu, sayang! Jika kau tetap ingin mempertahankan sifat egoismu yang sekarang”
Pupu    : “Apakah aku dapat memperbaikinya mulai dari sekarang?”
Peri3    : “Jadi kau telah menyesal sekarang?”
Pupu    : “Ya, begitulah. Aku malu mengakuinya”
Peri3    : “Baiklah akan kuberikan kau kesempatan. Marilah kita pulang!”

BAGIAN 6:
Lalu mereka pun pulang, mereka telah sampai ke kamar Pupu. Pupu pun kembali dengan sifat yang sudah berbeda. Dia tidak lagi menjadi egois. Pupu pun teringat kepada Berli yang sedang bekerja sendirian. Dia pun segera menyusul Berli di tempatnya bekerja

Berli: Eonjengan i nunmuri meomchugil, eonjengan i eodumi geochigo... (belum selesai      Berli menyanyikan lagunya, datanglah Pupu yang segera menyambung  nyanyiannya)
Pupu: Ttaseuhan haessari i nunmureul mallyeojugil, jichin nae moseubi... (terhenti ketika    Berli menoleh kepadanya dan tercengang melihatnya datang serta menyambung          nyanyiannya). Maafkan aku jika selama ini aku bersikap kasar kepadamu,         sungguh. Akan aku perbaiki semua kesalahanku padamu. Maukah kau        memaafkanku?
Berli: Ada apa denganmu? Kenapa kau berubah seperti ini?
Pupu: Maafkan aku.. (berkata dengan memelas)
Berli: Baiklah, aku mungkin sempat marah kepadamu. Namun aku tidak pernah     membencimu. Karena itu aku sudah memaafkanmu. (tersenyum kepada Pupu)
Pupu: Ouh.. kau sungguh baik kepadaku. Betapa bodohnya aku selalu kasar padamu

            Akhirnya mereka pun saling bermaafan. Mereka pun sekarang bersahabat kembali seperti dulu, tidak ada yang memaki, memarahi apa lagi membenci. Semua telah berubah semenjak hari itu, berkat bibi yang kembali datang untuk menyadarkan keponakannya sendiri serta ketiga peri yang membantu menyadarkan Pupu si egois. Pada akhirnya, Pupu dan Berli tumbuh menjadi dua wanita dewasa yang bijaksana dan baik hati. Dan mereka memiliki akhir bahagia bersama-sama selamanya.

4 komentar:

  1. ini dari cerita barbie... cuma diganti nama tokoh, lagu korea, dan idul fitri bukan natal haha -______-

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya, emang diangkat dari film barbie. disesuain juga sama anggota pemain dramanya yg cewek semua. jd hasilnya gini=D

      Hapus